DESAH HATI
Dengarlah suara angin berdesau semilir menyentuh legam lenganku yg telanjang.
Kita tengah duduk menunggu fajar semburat sinar merah matahari.
Dengar juga ada derap langkah serentak terhenti.
Seakan hendak menyimak lirih bisikan kalbuku.
Heningnya malam bekukan embun gepak kelelawar pecahkan bintang.
Kau pernah ajarkan aku tentang mengusir segala prasangka
dan rasa ragu yg kerap menyusup dalam sukmaku.
Bersama dirimu kala itu.
Aku rindu hari2 yg indah riang berlagu
Bergandengan tangan mereguk cinta.
Kadangkala aku bernyanyi menyuarakan hati orang yg gundah gulana.
Kadang pula dendangku resah antara gamang dan keraguanku.
Kadangkala aku ingin berucap tegas dan lugas tapi bosan dan resah slalu menghantuiku.
Kadangkala rasa takutku tak beralasan tuk ungkapkan kegetiran hatiku.
Antara
daratan dengan langit...terlalu jauh...
tapi hatiku yang mengebu bagai
meteor...
menembus awan bagai hatimu yang dalam...
menjadikan kita
setangkupban prau....menjadikan satu...
karenakan hatiku dan hatimu
bisa menyatu...tuk bergayung
Kelopak mawar menjadi jingga
seperti bibirmu yg meneteskan beribu embun
dan melukiskan kupu kelabu di daster yg melilit kusut tubuhmu.
sarang laba2 masih erat melekat di langit2
ruang mengumpulkan debu yg lewat tak sengaja.
Lalu tubuhmu kelu ingin ku melumat kulitmu ditiap kerutnya yg bisu.
Hari ini tak ada cangkir kotor sisa kopi hitam kental yg tumpah dimeja.
Juga tak ada daster kupu kelabu dekat tirai kusut di sudut ringsut.
Dan kertas di meja tak juga kusentuh tintapun beku dalam laci kumal.