Sabtu, 06 September 2014

LEPASKAN LELAHMU


 LEPASKAN LELAHMU

Jangan kau membiarkan rasa sakit itu membunuhmu.
Biarkan airmata menetes tanpa kata.
Lara itu tak kan bisa membinasakanmu!
Hilangkan rasa sesakmu seirama dengan desah nafasmu.
Atau pedih itu ingin kau biarkan memusnahkanmu?
Dalam untaian doa panjang pada siapa kau akan berbagi?
Jangan ada yang terluka atau keburukan itu menjadi
terkuak!
Simpanlah yang rapi dalam almari sebagai catatan hati.
Biarkan sang kekasih abadi yang tahu pasti.
Lelaplah Tidur malam ini hingga ketika pagi menyapa
biarkan semua kembali.


DESAH HATI

 DESAH HATI














Dengarlah suara angin berdesau semilir menyentuh legam lenganku yg telanjang.
Kita tengah duduk menunggu fajar semburat sinar merah matahari.
Dengar juga ada derap langkah serentak terhenti.
Seakan hendak menyimak lirih bisikan kalbuku.
Heningnya malam bekukan embun gepak kelelawar pecahkan bintang.

Kau pernah ajarkan aku tentang mengusir segala prasangka 
dan rasa ragu yg kerap menyusup dalam sukmaku.
Bersama dirimu kala itu.
Aku rindu hari2 yg indah riang berlagu
Bergandengan tangan mereguk cinta.

Kadangkala aku bernyanyi menyuarakan hati orang yg gundah gulana.
Kadang pula dendangku resah antara gamang dan keraguanku.
Kadangkala aku ingin berucap tegas dan lugas tapi bosan dan resah slalu menghantuiku.
Kadangkala rasa takutku tak beralasan tuk ungkapkan kegetiran hatiku.

Antara daratan dengan langit...terlalu jauh...
tapi hatiku yang mengebu bagai meteor...
menembus awan bagai hatimu yang dalam...
menjadikan kita setangkupban prau....menjadikan satu...
karenakan hatiku dan hatimu bisa menyatu...tuk bergayung

Kelopak mawar menjadi jingga 
seperti bibirmu yg meneteskan beribu embun
dan melukiskan kupu kelabu di daster yg melilit kusut tubuhmu.
sarang laba2 masih erat melekat di langit2 
ruang mengumpulkan debu yg lewat tak sengaja.
Lalu tubuhmu kelu ingin ku melumat kulitmu ditiap kerutnya yg bisu.
Hari ini tak ada cangkir kotor sisa kopi hitam kental yg tumpah dimeja.
Juga tak ada daster kupu kelabu dekat tirai kusut di sudut ringsut.
Dan kertas di meja tak juga kusentuh tintapun beku dalam laci kumal.


RINDUKU DIUJUNG LAUT

 RINDUKU DIUJUNG LAUT














Melaut rinduku, gelora menyapa dirinya
Aku diambang batas, ku sudah sekarat
Tak mampu lagi berteriak
Jalan setapak itu masih ada
Bahkan pohon bungur yg tak lagi muda masih berbunga
Aku baru saja datang sekedar melepas beban rindu
Beranda tempat dulu bersua, dinding berwarna putih
Lampu rotanpun telah usang dimakan usia
Namun dalam sejuta kenangan tentangmu tetap abadi
Meski tak ada ujung yg mempertemukan kita lagi
Kau telah kusimpan direlung kalbuku
Sekedar kau tau...
Aku selalu ingin setia menziarahi pusaramu...

SALAM TUK NIRWANA

 SALAM TUK NIRWANA

Sampaikan salamku untuk alam nirwana wahai sang bayu,Agar ketenangan terukir dalam balutan ribuan doa,belailah ia dgn senandung ayat yg kukirim dijumat suci ini.
Bersama ribuan malaikat dan bidadari
Menyambut kehadiran batinku
Dalam satu titik tatapan mata hatiku
Menuju satu kepasrahan kepada Sang Khaliq.
Seiring untaian Asmaul Husna yg kupancarkan dari dasar hati
Lembut,hangat,sejuk,syahdu...
Berbaur dalam satu rasa,,satu kata..

MERASA MEMILIKI

MERASA MEMILIKI














Entah knp hati ini merasa gembira
Ktika foto itu kutatap dg tertegun
Kau luar biasa
Kau hebat
Kau sayangi putramu dg ketulusan
Itu terlihat dr senyum bibir merah jambumu itu.

Wahai engkau yg terpuji
Kumerasakan kegembiraan itu
Walau aku tak disana waktu itu

Wahai engkau yg terkagumi
Ku ingin rasakan rasa itu bersamamu
Demi masa lalu ku terbang untukmu

Kau peluk putramu
Seakan dunia tak engkau pedulikan
Bintang tersenyum dg mu
Bulan menatap sendu dg mu
Matahari diam sesaat
Berhenti bersinar agar terpayungi dirimu dg sang awan

Wahai engkau terpujilah
Dg putramu kau hadirkan sejuta harapan kalahkan angkuhnya dunia

Aku merasa bahagia
Walau aku tak disana

Untuk putramu jadilah ibu nomer satu
Untuk putramu yg selalu jd lentera penyemangatmu
Untuk putramu terpujilah wahai sang ayu

MAMA

MAMA

Pagi ini senyum sang surya redup
Burung burung terbang rendah
Bunga bunga mekar tak penuh
Rumput masih termandikan embun

Aku teringat senyum hangatmu
Walau wajahmu terlihat berkerut
Pudar memutih sebagian rambutmu
Satu gigimu tanggal karena waktu

Mama....
Kau perempuan yg menjadikanku
Hidup di dunia penuh kegembiraan
Walau korbankan sebagian nyawamu
Untuk lahirkanku

Mama......
Kecupan itu buatku damai
Belai jarimu yg keriput itu
Buatku tertidur dg mimpi indahku

Mama....
Kau disana bahagialah
Damailah
Putramu tak bisa balas apa yg kau berikan
Hanya sebutir doa yg mampu putramu lakukan
Tuhan..ampuni beliau
Seperti halnya mamaku ampuni segala dosaku.

The rain

The rain

Ritme hujan ini menyejukan hati
Seperti musik jazz incognito
Setiap rintiknya
Bermuatan nada nada asmara
Seolah memahami apa yg ada dlm benaku

Dikejauhan semua dedaunan tunduk
Menghdiahkan kesalutan padanya
Tapi....
Kulihat diujung sana
Bersinar keputihan menyilaukan
Hhhmm.....
Sang mawar itu terlihat lebih indah
Dikala sang hujan membasahi kelopaknya

Ingin kupetik dikau
Namun sayang tiada kemampuan
Karena ku harus menerjang hujan
Kubiarkan kau disana
Temani sang bulan dan bintang yg sebentar lagi datang

Oh mawar begitu indah dan harum semerbak wangi bunga.

POPULER

Halaman Awal